![]() |
| Gambar dihasilkan oleh AI |
Pernahkah Anda memperhatikan suasana di sebuah kedai makan atau warung kopi belakangan ini?
Asap masih mengepul dari piring nasi goreng yang baru saja dihidangkan. Aroma gurih rempah dan renyahnya kerupuk seolah memanggil-manggil untuk segera dinikmati. Namun, tangan kanan memegang sendok, sementara jempol tangan kiri sibuk mengusap layar kaca setebal beberapa milimeter. Mata tidak lagi memandang warna kecap atau kepulan asap di atas piring, melainkan terpaku pada linimasa media sosial yang tak pernah berhenti bergerak.
Secara fisik, kita memang sedang duduk manis di meja makan. Namun, pikiran dan jiwa kita melayang entah ke mana, menyusuri kehidupan orang asing di layar, membaca komentar yang membuat jidat berkerut, atau sekadar menyaksikan video pendek.
Layar gawai telah resmi menjadi "teman makan" masa kini.
Orang tua kita zaman dahulu selalu memiliki cara sederhana namun mendalam dalam memandang makanan. Ada petuah lama dalam budaya Jawa yang mengajarkan bahwa mangan kuwi ora mung ngisi weteng, nanging uga ninthing rasa. Makan bukan sekadar urusan memindahkan karbohidrat dan protein ke dalam perut agar kenyang, melainkan sebuah ritual kecil untuk bersyukur dan merasakan nikmat yang tersaji di depan mata.
Dulu, saat sepiring makanan dihidangkan, ada jeda sejenak untuk berdoa, menghirup aromanya, dan menikmati setiap suapan dengan kesadaran utuh. Orang tua kerap mengingatkan agar kita tidak melakukan hal lain yang mengalihkan perhatian saat makan. Bukan karena mistis, melainkan agar kita tidak tersedak, tahu kapan perut merasa cukup, dan benar-benar menghargai rezeki yang ada.
Kini, kebiasaan itu perlahan terkikis oleh kehadiran "gawai" yang sangat menuntut perhatian. Ketika fokus kita terpecah antara mengunyah dan menonton, lidah sering kali kehilangan kepekaannya. Kita menelan makanan tanpa benar-benar mengecap rasa gurih, pedas, atau manisnya. Makanan hanya menjadi "bahan bakar" yang masuk secara otomatis, sementara otak kita sibuk menyerap suntikan dopamine dari layar.
Yang lebih ironis adalah ketika kita makan bersama keluarga atau teman satu meja. Keheningan menyergap di antara piring-piring yang tertata. Masing-masing orang menunduk, sibuk dengan dunianya sendiri. Kita merasa tersambung dengan ribuan orang di luar sana, namun justru asing dengan orang yang duduk persis di hadapan kita. Meja makan yang dulunya menjadi ruang paling hangat untuk berbagi cerita setelah seharian lelah beraktivitas, kini berubah menjadi deretan tubuh yang hadir tanpa jiwa.
Tentu, tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi. Gawai memberikan banyak kemudahan. Namun, mungkin sesekali kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah begitu terasing hingga tak sanggup lagi melewati waktu makan selama 15 menit saja tanpa gangguan layar?
Mungkin besok pagi atau nanti malam, cobalah letakkan gawai itu sejenak di luar jangkauan tangan. Biarkan layarnya gelap.
Tataplah kepulan asap dari piring Anda, dengarkan bunyi renyah kerupuk yang digigit, rasakan hangatnya nasi, dan nikmatilah obrolan ringan dengan orang di samping Anda. Sebab terkadang, kebahagiaan paling nyata justru hadir saat kita benar-benar "ada" di meja makan, tanpa perlu ditemani oleh riuhnya dunia di balik layar kaca.
